• Opinion

    Beberapa buah kata-kata yang bisa tersampaikan

  • Resensi Buku

    Beberapa kata yang bisa tergambarkan dari setumpuk lembaran

  • Hobi

    tentang hobi

  • Obrolan

    Obrolan-obrolah

Minggu, 08 Februari 2015

Kesatria Piningit, si Ratu Adil yang Membusuk!

gambar dari https://wayang.files.wordpress.com

Salam, 
Dengan tulisan ini saya sampaikan kepada para kaum mistika, penunggu dan pendamba Satria Piningit, bahwa Kesatria Piningit yang telah kalian nanti-nantikan itu telah mati. Kematiannya karena tak kuasa keluar dari tempat Piningitannya. Ia terkurung disana, dan membusuk sampai mati.

Ratu Adil yang menyedihkan itu dahulu diramalkan oleh seorang sastrawan Jawa bernama Jayabaya. Raja Kediri itu melahirkan Kesatria Piningit si Ratu adil dari Ramalanya yang disebut sebagai Jangka Jayabaya. Karena karyanya itulah akhirnya membawa masyarakat dijawa/Nusantara memiliki kepercayaan terhadap Kesatria Piningit si Ratu Adil tadi. Jayabaya meramalkan bahwa Kesatria Piningit itu adalah seorang ratu adil yang akan membawa Nusantara Menuju masyarakat adil makmur, aman, tentram, sentosa, Gemah Ripah loh jinawi, dan sifat-sifat surgawi lainnya.

Kata Piningit yang dipakai untuk menyebut Ratu Adil itu adalah karena dalam ramalannya, jayabaya melukiskan Kesatria itu baru Muncul setelah keadaan Nusantara yang digambarkannya begitu mengenaskan, mengalami “Wolak-walike Jaman”, mana yang benar mana yang salah katanya para cendikia tidak berani mengatakannya. Disebutkan dalam bait ke 140, Bahwa:
“Polahe wong Jowo koyo gabah den interi, endi sing salah endi sing sejati, poro topo podho ora wani. Podo wdhi ngajarake piwulang Adi, salah-salah anemahi Pati”.
Disebutkan juga bahwa dalam ramalan itu, sebelum kedatangan sang Ratu Adil, Nusantara dipenuhi dengan bencana Alam. Sungguh kejam ramalan itu. Bait 141:
“Banjir bandang ono ngendi-endi, Gunung jeblug tan ajarwani, tan angimpeni. Gehtinge kepathi-pathi marang Pandhito kang oleh Pati Geni. Mergo wedi kapiyak wedine sopo siro sing sayekti”,
Dalam bait yang terakhir dikutip ini juga ditulis bahwa generasi kita atau entah kapan yang akan datang itu, membenci Cendikia-cendikia, para perthapa yang telah belajar, karena dianggap kita takut terbuka jati diri kita.Kesatria piningit yang didamba-dambakan itu, diramalkan akan menjadi seorang revolusioner. Dia akan memimpin perlawanan terhadap “Jaman yang Terbalik” seperti yang diramalkan dalam kitab jayabaya itu.

Namun apaboleh buat. Kesatria itu telah membusuk sekarang. mati selayaknya jasad yang lain. Mengapa?

Sebelum saya menyerahkan bukti-bukti kematian Kesatria Piningit. Mari kita mulai dengan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dasar. Apa itu Kesatria Piningit? Bagaimana rupa, wujud, materi yang ada padanya?

Pertanyaan sederhana tersebut barangtentu telah bisa kita jawab dengan sederhana Juga. Bahwa Kesatria Piningit adalah seorang tokoh yang ada dalam sebuah teks, karya sastra. Kesatria Piningit tidak memiliki wujud, rupa, ataupun materi; ke-ada-annya hanyalah didalam dunia ide, dunia yang kita impi-impikan. Wujud, rupa, dan bentuknya paling real adalah berupa teks yang dibuat oleh manusia bernama Jayabaya. Disanalah kehidupan Kesatria Piningit, disana tempatnya dilahirkan, dipingit, dan akhirnya membelenggunya sampe mati disana. Tak lupa perlu ditekankan, disanalah pula lokasi pembunuhan Kesatria Piningit, disana bersemayam jenazahnya. Silakan kalau para kaum penanti, pendamba Kesatria Piningit, kaum imajinatif itu berkenan untuk sekali-kali berziarah ke makamnya yang menyedihkan itu. Dalam hal ini perlu ditekankan pula, siapa dalang dibalik pembunuhan kanjeng Kesatria Piningit si Ratu Adil itu. Sungguh sangat jelas, seorang yang melahirkannya pula, Raja Kediri pada masanya, Jayabaya. Dari teks-teks yang dibuatnya, Kesatria Piningit tak kuasa keluar dari ke’piningit’annya dalam teks itu. Dia tak pernah bisa keluar dari keadaannya sendiri sebagai sebuah teks. Akhirnya mati dan membusuk.

Ya, Kanjeng Ratu Adil telah mati disana. Namun apabila pandangan semacam itu belum dapat diterima oleh otak mistis masyarakat. Mari buat opsi lain. Jangan-jangan Pembunuh Ratu Adil adalah kita sendiri?

Diawal telah kita ketahui bahwa Kesatria Piningit (hanya[?]) akan muncul setelah “Jaman yang terbalik”,  dimana yang baik terlihat jelek, dan yang jelek terlihat baik. Kondisi dan syarat tersebut tetap tak dapat kita terima, masyarakat kita tetaplah harus tertib terhadap hukum dan tata dalam masyarakat, kita tetap saja harus insyaf bahwa hidup kita harus tetap berjalan sesuai dengan cita-cita dan kehendak yang kita sepakati bersama, dengan atau tanpa Kesatria Piningit. Hal itu bukan merupakan suatu pilihan namun keharusan. Maka dengan musabab seperti itu, Kesatria Piningit tetaplah tak boleh keluar dari ke”piningit”annya. Saya mungkin belum paham bagaimana Ratu Adil itu dipingit.  Dalam bayangan saya denga logika mistika yang coba saya ikuti, bahwa Kesatria itu dipingit, atau bersembunyi, bertapa atau bersemedi didalam Goa sampai jaman yang begitu hina datang. Kalau memang semacam ini, biarlah Ratu Adil itu tetap bersembunyi didalam goa, biarlah dia bertapa selamanya, sampai busuk dan mati. Sedang kita, semakin menjadi masyarakat yang madani yang jauh dari syarat kemunculannya.

Mari kita mengandai lagi, seandainya benar, jaman terbalik adalah satu-satunya cara kita mendatangkan Kesatria Piningit, dan kita benar-benar lebih memilih merindu, medamba dan mengarapkannya untuk datang dari pada berpegang pada pendirian kita, tak masalah. mulai hari ini marilah kita bertindak sebajingan yang kita bisa, kita berperilaku se-bar-bar- mungkin, tak usah memikirkan tata yang ada dalam masyarakat,  kita marjinalkan para sarjana, ustad, kiai, dkk yang sok-sokan mengatur moral dan perilaku kita, mari kita kurung mereka dalam pertapaannya, gedung-gedung perkuliahan, atau tempat ibadah mereka masing-masing, tak usah mempedulikan apa yang mereka ajarkan dan katakan, dengan begitu Kesatria Piningit yang kita dambakan akan segera hadir, muncul dan meyucikan bangsa kita dari segala perilaku barbar, termasuk dari kita para barbar yang mendambakannya ini. Bagaimana kalau begitu saja? Bisa kah kita menerimanya? Tentu saja tidak!

Kita tentu lebih memilih menentukan dan kedaulatan bangsa kita secara bersama-sama, tanpa darah dan perilaku konyol semacam itu. Sabab hal itu jelas bertentangan dengan akal budi kita.

Mari Mengandai sekali lagi, jika Kesatria Piningit semacam itu akhirnya muncul, dan menjadi antitesa dalam proses kita menuju masyarakat madani ini, lantas melakukan pemberontakan, Pantaslah Kesatria Piningit itu kita bunuh bersama-sama!

Hal ini tak lain demi kita sendiri, demi kehidupan yang kita tentukan sendiri kemana arahnya.

Apa Maksudnya?

kita melihat akhir-akhir ini, kepercayaan terhadap seorang pemimpin yang mahabenar itu sungguh sebenarnya sangat merugikan kita sendiri. Kepercayaan yang demikian akhirnya mendorong masyarakat untuk berperilaku sesukanya. kepercayaanya terhadap kesatria yang kelak akan menyelamatkan bangsanya, tentu saja mereduksi nasionalisme nya, rasa memiliki dan berjuang kepada bangsanya.
ontoh yang paling mudah dapat kita temui adalah dapat kita lihat pada banjir yang sekarang ini melanda Jakarta. Tak ada maksud saya membela sosok pemimpin yang sekarang, tapi kita lihat saja masyarakatnya. Setiap tahun Banjir melanda kota itu, ibukota Indonesia. Hal ini jelas karena kali yang seharusnya menjadi aliran air menjadi sempit karena dibangun pemukiman warga, yang tentu saja diperparah dengan aktifitas pembuangan sampah disana. Ketika sungai bermaksud dibenahi, mereka tak mau dipindah. Jadilah setiap tahun Jakarta banjir.
Banjir yang datang itu akhirnya menjadi kesalahan seorang pemimpin. Mereka meneriaki Pemerintah tak becus mengurus Daerahnya. Ketika Pemerintah melakukan upaya paksa, mereka meneriakinya dengan "Pelanggaran HAM". Kalau dalam kasus jakarta tak sebegitu bedanya dengan dengan kasus macet dan lain-lain.
Pemimpin ajaib mana yang akan dapat melaksanakan tugas koordinasinya dengan baik kalau tak ada sikap kooperatif dari setiap anggota masyarakat yang menghendakinya mengatur?

Demikian pula dengan kebencian dan perlawanan kita terhadap korupsi, kolusi, dan nepotisme. Masyarakat yang setiap hari diberi kesempata untuk menghujat Kasus-kasus terorisme ini, tidak sebegitunya dapat menghujat dirinya sendiri ketika menghadapi persoalan penyogokan, kedekatan famili, dan kesempatan ngentit duit. Kita sepenuhnya harus menginsyafi, kalu perlu mengimani sikap anti korupsi, jika benar-benar kita berharap Negara kita demikian bersihnya.

Dalam era demokrasi ini, Kepemimpinan adalah sepenuhnya ditangan rakyat. Pemimpin yang dikehendaki  seharusnya hanya mengkoordinir jalanya hal-hal yang ditetapkan bersama. Tak heran Kalau Hukum (konstitusi), ketetapan bersama, kedudukannya jauh diatas Pemimpin. Pemimpin dinegara kita tetap harus tunduk pada konstitusi, hukum yang ditentukan rakyat. Rakyat tetaplah memimpin, dan memang seharusnya demikian.

Ketika saya mencoba mengandaikan wujud Satria piningit itu, dalam bayangan saya terihat seorang Pemimpin pemberontakan, seorang yang akan memberontak demi kebenarannya sendiri. Hal ini tidak dapat kita terima, Pemimpin negara yang demokratis ini haruslah dikehendaki rakyatnya sendiri, mengenai baik buruk nya saya rasa Tuhan telah sepenuhnya menyerahkanya pada hukum alam, kehendak dan watak sosial. Dengan Begitu setria piningit, apabila benar-benar memimpin pemberontakan dan menjadi antitesa sosial, haruslah kita adili bersama.

Realisasi Satria Piningit!

Mari kita membuat haraapan baru, kita tinggalkan segala kepercayaan-kepercayaan mistis mengenai seorang kesatria-kesatria itu. Mari benar-benar kita realisasikan ide tentang masyarakat yang adil makmur, sebagai akibat dari keadaan satria piningit tadi, menjadi benar-benar nyata.

Mari kita benar-benar singkirkan dulu syarat-syarat konyol untuk benar-benar merealisisasikan satria pningit. Dalam masyarakat demokrasi ini, yang segalanya diatur sendiri oleh rakyat, mari kita singkirkan bayangan Individu dan ke-personal-an Satria piningit. kita dapati, suatu Pemimpin yang Bukan Personal, yang akibatnya mungkinakan menjadi apa yang kita sebut otoriter itu, kemudian menjadi pemimpin yang menyeluruh, men-sosial, kalo boleh dikatakan demikian.Kepemimpinan  Masyarakat!

Kita juga lepaskan ke'pininit'annya. Yaitu pandangan kita mengenai Satria piningit yang sebelumnya. ternyata Kepemimpinan Masyarakat ini sebenarnya terbelunggu, dipingit, oleh kepercayaan, logika mistika terhadap ramalan itu. Ramalan itu telah mereduksi nasionalisme kita, kita menjadi pasrah dengan kepemimpinan personal itu. kita menjadi lupa akan Bangunnya satria piningit yang kita impikan, Satria Piningit dalam Wujud Kepemimpinan Masyarakat. kita harus menyatakan perang kepada kepercayaan-kepercayaan dan mistisme yang membelenggu kemajuan kita sebagai sebuah bangsa, Kepemimpinan Masyarakat yang kita idamkan.

Tak lua kita pertegas, kita lawan benar-benar kepemimpinan yang digambarkan peramal-peramal itu. Kita insyafi benar-benar bahwa masyarakatlah yang menjadi pemimpin, yang akan menjadikan Bangsanya sendiri maju tanpa pertumpahan darah dan revolusi oleh satrio personal tadi.

Bunuh Satria Piningit, dan segala Mistisme!
Bangunkan Kepemimpinan Masyarakat!


Share:

Rabu, 21 Januari 2015

Mungkin Ritual Penting Juga.

Lama juga tak bersua. Liburan panjang buat kita sedikit longgar untuk belajar apapun diluar materi-materi yang diajarkan dosen diperkuliahan. Yah untuk menutupi kesuwungan-kesuwungan, ada saja yang dipikirkan. Ini pikiranku pagi ini. 

Ini tentang keganjilanku akhir-akhir ini. Kenapa ya Orang-orang yang turut dalam dunia pikir religi, sekarang -lebih tepatnya lagi dalam perspektif saya-, kerap meninggalkan ritual dalam konstruksi keidealannya. Entahlah, mungkin aku belum sampai tahap itu. Mungkin ada benarnya juga, Orang-orang yang mulai menyadari dan kemudian meyakini keidealannya, merasa tak terlalu penting ritual-ritual itu, toh, memang Kebenaran (kepastian) tidak akan pergi kemana-mana, tidak membesar atau mengecil dengan atau tanpa ritual-ritual. 

Tapi, sampai sekarang saya sebenarnya belum menemukan alasan yg pas untuk meninggalkan ritus-ritus itu. Menurutku, sebenarnya ritual-ritual itulah yang benar-benar menyangga keidealan, atau dalam hal ini kebenaran, entah isme atau apapun itu. Ritual yang tak maksud disini bukan selalu ritual seperti upacara-upacara seremonial, walaupun yang pada intinya saya meyakini itu langkah awal, namun sebuah penyatuan diri terhadap sesuatu yang diyakininya, penyatuan perbuatan badaniah dan pemusatan mental. Ritual ini -dalam konfusianisme disebut "Li"- adalah menyatunya seluruh perbuatan terhadap apa yang diyakininya secara kontinyu.Ritual ini, kalo dalam contoh, dalam keyakinan hindu disebut "Samadhi"; atau ateisme ritual-ritualnya adalah penentangan terhadap keyakinan terhadap Tuhan; bahkan dalam wujudnya yang paling ekstrim, dalam Advaita Vedanta, Pemujaan terhadap Tuhan sebagai pengembangan kesadaran bahwa segala sesuatu, termasuk Tuhan, hanya illusi. 

Dalam hal ini, sebenarnya setiap orangdengan segala kelemahannya, dengan kebutuhannya terhadap keyakinan, kebutuhannya terhadap apa yang diyakininya dan mempertahankannya, Orang harus melaksanakan Ritus-ritus tersebut. Tak lain, bukan untuk Kebenaran yang diyakininya, Namun semata-mata untuk memenuhi hasrat dan kelemahannya untuk yakin pada sesuatu. 

NB: Supaya dahaga manusia akan keyakinan itu teratasi, menurut saya ritual yg ditawarkan Muhammad dgn agama monoteistiknya mengantarkan manusia pelan-pelan menuju minuman yg lebih berasa, keimanan. Heuheuheu #Muhammad-isasi.

tulisan tertanggal 21 Januari 2015
Share:

Senin, 27 Oktober 2014

PENINGKATAN PERAN SERTA DEMA DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET DEMI TERWUJUDNYA GOOD UNIVERSITY GOVERNANCE

 


Kehidupan bermasyarakat internal universitas tidak terlepas dari beberapa masalah. Universitas tidak melibatkan peran serta mahasiswa dalam penentuan kebijakan yang dibuat dalam sidang senat. Sidang senat hanya dihadiri petinggi universitas dan birokrat universitas pada umumnya. Dengan demikian beberapa keputusan dianggap tidak sejalan dengan kebutuhan para mahasiswa. Oleh karena
itu kami melakukan penelitian dengan katya tulis ini menggunakan metode penelitian normatif dengan beberapa peraturan yang mengatur tentang kehidupan birokrasi universitas. Dalam katya tulis ini dibahas tentang kedudukan sekaligus wewenang DEMA dan upaya rekonstruksi DEMA dalam penentuan kebijakan universitas sehingga dapat mewujudkan peran serta mahasiswa secara maksimal.

Penelitian ini dibuat untuk Lomba Karya Tulis Internal UKM Kelompok Studi Penelitian (KSP) "Principium" FH UNS. Tim beranggotakan tiga mahasiswa yakni Saya sendiri, Rizal Abdurrahman, Edwin Prasetyo, dan Lingga Norma Datika. Dalam perlombaan tersebut karya ini meraih juara ketiga dari 16 kelompok yang berlomba.

Download selengkapnya dibawah ini:
Share:

Kamis, 17 Juli 2014

WOY, TUNGGUIN SAYA!

Hay,
Kalian masih nungguin saya? Atau udah beriman sama ramalan-ramalan, mitos-mitos, Scan USG, yang dibuat lembaga-lembaga survey dan Quick Count (QC) tentang saya? Ada yang bilang saya ini A, ada juga yang bilang saya ini B. Saya ini A atau B? Saya ini 1 atau 2? Saya ini putih atau kotak-kotak? Hmmm, semoga kalian jangan mudah percaya dulu sama kata, prasangka, dan (meskipun) analisis mereka.

Share:

Sabtu, 05 Juli 2014

Tuan atau Babu ? (edisi spesial Hari terakhir kampanye PILPRES)

Hay, hari terakhir kampanye PilPres nih kayaknya. Udah ada yg "Srek" belom? Nanti malem ada debat Capres-Cawapres yang terakhir, bagi kamu yg masih bingung bisa nonton ya entar malem. Kalo saya sih juga udah milih dari awal kampanye. 
Tentunya kita semua tahu, kalo negara kita memberi kesempatan kepada siapapun, kepada kelompok apapun untuk ikut serta dalam Pemilu, ya, karna kita negara demokrasi. Saya sendiri menganggap kalo PEMILU itu salah satu, mungkin satu-satunya, jalan bagi terselenggaranya REVOLUSI yang bersih, yang sehat, bukan berarti tanpa korban, tapi revolusi ini minimal, paling suci. Bakalan malu-maluin aja kalo saya, megingat umur saya, diam saat ada kesempatan untuk ikut serta revolusi/perubahan damai ini.

Dari debat-debat sebelumnya, kita telah mendengar bersama janjijanji, yang mereka katakan sebagai visi misi, masing-masing capres. Bagi saya, janji tetep janji, sama seperti sebelum-sebelumnya, pernyataan retorik yang disampaikan dengan semangat, tegas, dan penuh keyakinan, hanyalah untuk memasturbasikan telinga masyarakat, tetap saja akhir-akhirnya hanya membicarakan apa yang ingin didengar masyarakat. Yang satu ngomong tentang potensi SDA yg bocor, yang dua ngomong tentang Sehat, dan terdidik, secara gratis. bukankah kita udah mendengar ini lamaaaaaaaa ? Hmm, Tapi gakpapa, memang kita butuh janji kok, apalah bedanya komitmen dengan janji, sebelum terjadi, kecuali beda susunan huruf dan pengucapannya saja. Haha.

Maka itu seharusnya, sebaiknya, selayaknya, seyogianya, sebenernya kita perlu memepertimbangkan masalalu, trek rikord, prestasi, yang telah dicapai masing-masing kandidat, untuk meyakinkan kita tentang apa yang dibicarakan ngalor, ngidul, ngetan, ngulon, itu, tentang pola tindakan yang dilakukan oleh mereka dalam mengatasi masalah, dan masalahnya sendiri. Tapi, No, kalian harus mencarinya sendiri hal-hal tersebut. Tapi juga awas, blek kempeyn/berita palsu everywhere!

Ini beberapa pendapat dan pertimbangan saya setelah saya melihat, meraba, dan menerawang kampanye pengenalan capres cawapres sebulan ini.

KENAPA PILIH NOMER SATU?
◆Dalam urusan Representative atau tidak, capres yg ini harus kalian pertimbangkan dalam masalah RUPA. Kita bisa membenahi citra kita di mata dunia, dengan memiliki presiden semacam ini. Eh, bukankah kalo gitu kita termasuk pencitraan ya? Persetan dengan pencitraan. Haha
◆kita bisa sedikit nostalgia, dengan kepemimpinan pak Karno, karna capres satu ini sangat mengidolakan pak karno, sampe baju, mic, diusahakan semirip mungkin dengan pak karno. Masyarakat pun masturbasi mata kali ini. Saya sangat menghargai usaha beliau. :(
◆sekaligus nostalgia juga dengan kepemimpinan militer, Pak Harto, yang masyarakat sungguh-sungguh teratur karena militer di gandakan fungsinya. Dahulu ya. Gatau kalo programnya pak bowo ini mau gitu juga atau tidak. Saya rasa pendukung "pie kabare? enak jamanku Tho?" Akan kecewa, kalo militer gak di dwi fungsikan lagi.
◆bagi aktifis mahasiswa yg suka demo, demi eksistensi gerakan kalian dimasyarakat, saya sangat anjurkan untuk memilih nomor satu ini. Kenapa? Akan sangat "sesuatu" eksistensi dimata masyarakat bila kalian berhasil mengulang keberhasilan tahun 98. :)
◆ bagi kalian yang merasa beragama dalam bernegara, saya anjurkan untuk memenangkan nomor satu ini, karena FPI yang mendukung pemurnian agama, mendukung ini juga. Bersama pak bowo ini kita akan memerangi orang-orang kafir. Gak boleh takut kalo gak kafir. Tapi Semoga kita gak termasuk kafir dimatanya. :)
◆ dalam janjinya, dia akan memberi 1 M / desa. Hmm, lumayan juga.

KENAPA MILIH NOMOR DUA.
◆ dalam masalah representatif atau tidak, saya pribadi lebih menganjurkan pak Joko ini dalam hal mau berperilaku sederhana dalam sandang, pangan, dan papan, yang dikatakan rivalnya sebagai 'pencitraan'. Sebagai negara yang terpuruk, karena potensinya bocor, pak Joko ini lebih mau mewakili keadaan mayoritas kita. Walaupun dia mampu saja beli kuda. Bukannya ini munafik? Hmm iyakah?
◆ dalam hal kepemimpinan administratif dalam negeri. orang ini pernah menjabat walikota, juga masih sebagai gubernur. Saya bisa percayakan dia dalam hal keberlangsungan reformasi yg udah 15 tahun masih saja dalam masa transisi. Lelang lurah dan camat adalah salah satu contoh Re-Formasi.
◆mahasiswa progresif, mahasiswa anak yang merasa jaman selalu berubah, yang mau beraksi tidak dengan demo melulu, yang lebih mementingkan peran daripada eksistensi, saya anjurkan untuk memilih orang ini. Kenapa? Dalam demonstrasi, selain untuk propaganda ke masyarakat, adalah umum kita demo karena pendapat kita nggak didengar. Dalam trek rikordnya Orang ini mendengar aspirasi siapapun. Semoga menyebar ke bawah bila dia jadi presiden. Supaya kita gak panas-panasan demo untuk menyampaikan aspirasi.
◆biasanya, karena alasan nomor tiga diatas, pak joko ini disebut boneka. Karena terlalu manut sama orang lain. Katanya. Hmmmm, iyakah? Dia sendiri sudah bertekat dari awal untuk memotong subsidi BBM untuk dialihkan ke hal lain yg lebih pas kalo dia jadi presiden. Padahal dulu kenaikan BBM selalu dibarengi dengan demonstrasi. Pernyataan yg terlalu berani untuk dikatakan kalo dia ini penjilat rakyat.
◆kemajuan bangsa kita gak terhambat, karena dia mendukung orang yang berpotensi memimpin, untuk memimpin tanpa ada hambatan suku, ras, agama. Ex: Lurah Susan. Persaingan antar agama akan menjadi persaingan yang lebih baik.
◆ dia BISA , memberi tiap desa 1 M, cuma karena dia gubernur. Karena program satu milyar per desa itu memang hasil dari pemerintahan SBY. Hehe

Pada akhirnya, saya menganggap, bahwa karena pertimbangan diatas, sebenarnya kita dihadapkan pada dua pilihan.
saya akan akhiri dalam dua pilihan yang agak puitis. Hehe.

Sekarang tinggal kita, kita ini ingin pedagang kita diusir, atau diminta pindah?

Sekarang tinggal kita, kita ini ingin di dorong meninggalkan, atau ingin diajak meninggalkan?

Sekarang tinggal kita, kita ini ingin dipaksa BEBAS dari ketakutan, atau memang BEBAS untuk berketakutan?

Sekarang tinggal kita, Kita ini mau dipimpin oleh seorang tuan, atau seorang babu?

Sekarang tinggal kita, kita ini mau menjadi seorang babu yang harus nurut sama tuan. atau menjadi tuan, yang seorang babu bekerja untuknya?

Untuk hari kita yang akan baru, Kalo saya gak munafik, saya akan memilih merasa menjadi tuan, yang dibangunkan oleh babu, dengan santun. Bukan menjadi seorang babu yang dibangunkan dengan paksa untuk langsung bekerja. Hehe

Salam.

Rizal Abd, 5 Juli 2014.
Share:

About

FIRMAN HARI INI