• Opinion

    Beberapa buah kata-kata yang bisa tersampaikan

  • Resensi Buku

    Beberapa kata yang bisa tergambarkan dari setumpuk lembaran

  • Hobi

    tentang hobi

  • Obrolan

    Obrolan-obrolah

Tampilkan postingan dengan label obrolan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label obrolan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Oktober 2018

Minggu Pagi dalam Cermin

 
 
 
Hari ini aku bangun lebih siang dari biasa. Selain memang tidak ada agenda minggu pagi ini, aku merasa tubuhku berhak untuk bermalas-malasan lebih lama setelah membersihkan kamar kost semalam. Ah, sebenarnya pun aku tak suka kamar ini, terlalu nyaman buatku. Aku jengkel ketika kamar ini membuatku semakin malas menghadapi dunia luar. Di luar pintu kost itu rasanya segala perilaku telah berubahh sedemikian palsu. Aku tak tahu, apakah semua orang juga merasa palsu, berupaya membahagiakan satu sama lain sembari menyumpahi satu sama lain dalam hatinya?
Entahlah, aku tak mau memikirkannya lebih jauh. Pagi ini aku lebih ingin mensyukuri saja segala yang masih kumiliki, kepada Tuhan, atau entah apa sebutannya. Bangun pagi, masih sempat malas-malasan, ah itu juga sesuatu yang harus disyukuri hari ini. Kupikir dalam hidupku yang entah bermakna entah tidak ini, bersyukur adalah satu-satunya bahan bakarku untuk menghadapi segala hal.
Tapi, aku pun tak tahu pikiran-pikiran itu masih penting atau tidak sekarang ini. Aku hanya bisa menikmati segala pertanyaan mengalir dalam pikiranku pagi hari ini, tepat diatas kasur, di kamar kostku. 
Sembari bermalas-malasan, kuperiksa HP-ku yang sekedarnya. Sudah aku perkirakan akan ada pesan-pesan yang masuk pagi ini. Ya, benar saja, ada 10 panggilan tak terjawab, dan 2 notifikasi chat lainnya.
"Selamat ulang tahun, Mbak. Usia Mbak Nana sekarang sudah 25. Semoga semakin bertambah bijak dalam hidup, sukses dalam karir serta senantiasa diberkahi Tuhan, Nak. Semoga segera menemukan Jodohmu yang terbaik"
Pesan itu dari Mama. Ya, hari ini aku berulang tahun. Mama memang tak pernah melupakan tanggal lahir anak-anaknya. Sebagai anak perempuan tertua di keluarga, setiap ada kesempatan menasehati dan mendoakanku, Mama juga tak pernah melupakan persoalan jodohku. Oh, Mamaku sayang, aku tak tahu kenapa sebegitunya ia mengkhawatirkan persoalan pasangan hidupku. Selama ini tak pernah aku tak menuruti harapan mama, mulai dari memilih sekolah, kuliah, dan kerja. Tapi jodoh? Siapa yang rela aku bohongi untuk menerimaku? Aku terlalu banyak berpura-pura selama ini, tapi tentu saja aku tak mau berbohong selamanya dengan asal-asalan milih suami hanya karena umurku, dan karena adikku yang ngebet pengin menikah itu. Aku tak ingin satu sangkar bersama orang yang hanya mengenal perkara tubuhku semata, lantas memutuskan menikah denganku.
“Naa ... Banguun! hari ini jadi ya, aku jemput jam 10”
Chat lain dari Hendri, pacarku. Aku memang punya pacar, itupun demi Mama. Bukan, kami tidak dijodohkan. Aku memang sengaja menerima Hendri rekan kantorku sebagai pacar untuk menenangkan hati mama. Aku tak mau banyak-banyak menghabiskan waktuku dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang jodoh setiap teman atau keluarga bertanya. Selain memang sebagai tameng agar tidak sembarangan orang mendekatiku jika aku tak punya pasangan. Tapi apakah aku mencintainya? Itu juga salah satu pertanyaan yang akupun tak mau tahu jawabannya. Yang ku ingat saat ini, hari ini aku diajaknya bertemu. Entah untuk apa, kukira dia akan memberiku hadiah, layaknya yang dilakukan lelaki pada umumnya. Tapi aku masih berbaring di tempat tidurku saat ini, menikmati segala pertanyaan yang hadir dan menerka-nerka segala kemungkinan untuk menjawabnya, dan kadang-kadang menertawainya.
Tapi kenapa orang-orang ini merayakan ulang tahun? Apa spesialnya putaran waktu itu? Ah, kupikir sepertinya memang begitu watak manusia. Manusia berusaha mencari dan membuat-buat makna terhadap segala peristiwa dan dengan khayalannya tentang makna mengapa manusia menyibukkan diri. Semua itu demi menutupi kenyataan bahwa hidup ini memang berjalan tanpa makna. Ah, tapi itupun hanya berlaku kalau manusia sempat mencari makna, Hendri ini, mana sempat? Kupikir dia pun hanya ikut-ikutan saja merayakan ulang tahunku hari ini. Dan aku tertawa dengan pikiran itu.
Aku biarkan Hendri yang di pikiranku itu mencari makna dan menyibukkan diri dengannya.Ya, memang bagaimanapun aku tak mau dan tak pernah tahu apa yang ada di pikirannya tentang hari ini atau apapun juga. Kupikir masing-masing manusia tak bisa diterka isi pikirannya. Di sana juga manusia benar-benar bebas dan tak perlu capek-capek berpura-pura. Di sana pulalah selama ini tempatku bersembunyi dari Mama, Hendri dan siapapun juga.
Di Depan Cermin

Aku beranjak dari kasur dan pikiranku itu, dan pergi ke kamar mandi. Setelah mencuci muka, kupandangi wajah dan tubuhku dalam-dalam didepan cermin. Aku memang suka berlama-lama di depan cermin karena disana aku dapat melihat wajah kedua orangtuaku secara bersamaan. Ya, beginilah jika wajah mama dan papaku digabung jadi satu. Setidaknya dengan melihat cermin itu sedikit meredakan rinduku kepada mama, dan di sana pula terdapat wajah papa yang entah seperti apa sebenar rupanya. Papa meninggalkan kami sejak aku masih kecil. Hanya di depan cermin aku bisa membayangkan kembali wajahnya. Dua wajah sekaligus, wajah yang aku rindukan sekaligus wajah yang sama sekali tak ingin aku temui. Untung saja wajahku ini kata orang-orang lebih banyak mirip mama.
Tapi kali ini aku tak terlalu ingin mengingat wajah mereka. Hari ini di depan kaca aku hanya berpikir “Ternyata beginilah rupanya memiliki wajah dan tubuh berusia 25 tahun”. Kupandangi wajahku, wajah yang kata Hendri cantik dan membuatnya tergila-gila ini. Kenapa orang menganggapnya cantik? kupandangi lagi tubuhku. Nah, memang aku selalu janggal melihat satu bagian tubuhku, payudaraku. Kenapa dari semua bagian tubuhku, tumpukan lemak lebih banyak bertumpuk disana? Ini juga mungkin yang membuat Hendri sebut “tergila-gila”. Oh Hendri yang malang, sama saja dengan lelaki yang lain.
Aku amati wajah dan tubuhku ini, dan aku ingat-ingat kembali apa yang telah aku lalui 25 tahun ini? dan aku ingat rupanya wajah dan tubuhku ini yang kadang merepotkanku juga selama ini. 
Sejak aku beranjak dewasa, aku memang harus kian memilah-milah teman dekat, atau setidak-tidaknya harus mengatur jarak terhadap teman-teman lelaki. Kenapa? selama 25 tahun usiaku ini, gara-gara kombinasi wajah mama dan papaku di mukaku dan kelebihan lemak di dadaku ini, ternyata banyak merusak hubungan-hubungan teman dekatku. Mulai dari merusak persahabatan antar kawan lelaki, hubungan dengan pacar sahabat-sahabatku, atau malah hubunganku dengan sahabat-sahabatku sendiri. 
Semua itu karena banyak dari mereka, lelaki yang sekedar melihat perempuan hanya wajahnya dan tubuhnya saja itu, berusaha mendekatiku. Ya memang aku berusaha bersikap baik kepada siapapun. Dan setelah beberapa masalah dengan sahabatku, aku berusaha menyesuaikan sikapku. Tapi apakah tubuhku pantas bersalah atas itu semua?
Kenapa dalam imajinasi para lelaki ini memasukkanku dalam kriteria cantiknya? Tentu saja itu bukan salahku. Tapi mereka, para industri kosmetik dan industri perawatan badan, sabun, gym dan sebagainya. Kenapa dalam masyarakat kita yang berkulit coklat dan bertubuh tak tinggi-tinggi amat ini mereka memasang iklan wanita berkulit putih dan berbadan tinggi langsing sebagai perempuan idealnya? Tentu saja itu semua mempengaruhi imajinasi mereka mengenai bagaimana perempuan yang ideal. Dan kebetulan saja semua kriteria itu ada padaku karena perkawinan mama dan papa, tanpa aku minta. 
Lagipula, kenapa sembrono mendekatiku? Tak tahukah mereka di dalam pikiranku, lelaki yang cara pandangnya sempit begitu, derajatnya paling rendah dan selama ini paling mudah aku bodohi. Entah penilaianku itu datang darimana, memang ketika aku merasa mereka mendekatiku, aku selalu teringat papa, lelaki yang tega-teganya meninggalkan aku dan mama hanya karena wanita lain. Dan aku muak mengingatnya kembali.
Kembali aku pandangi wajah dan tubuhku ini. Oh betapa sudah lamanya tubuh ini aku miliki. Semakin tumbuh membesar dan meninggi seiring bertumbuh pula pertanyaan-pertanyaan dalam pikiranku ini. Kupikir selama ini memang aku hanya bertambah tubuh membesar, namun jiwaku ini masih menguasai tubuh ini sepenuhnya, dengan sadar dan utuh. Ah, itu juga hal yang perlu aku syukuri hari ini. Kupikir hanya itu kebutuhan dasar manusia yang utama.
Lama kupandangi cermin ini, pantulan wajah dan tubuhku, aku lupa, rupanya ini juga yang membawa persoalanku sekarang ini, Mama yang ditawari mantu oleh teman-temannya, dan karena itu sekarang aku harus memacari Hendri agar tak repot-repot menjawab itu semua. Dan sekarang Hendri segera menghampiriku. Aku harus menemuinya. Aku mandi dulu.
Terakhir, meski aku tidak tahu berapa sebenarnya usia jiwaku yang melulu bertanya dan menerka apa saja ini, aku ingin mengucapkan kepada tubuhku dan hidupnya yang terbatas: Selamat ulang tahun ke 25 tubuhku yang kian membesar.
Share:

Jumat, 05 Januari 2018

Desa, Kota atau Warung Kopi?


diambil dari http://curate.com.my/exhibitions/dulu_kini_modern_contemporary_indonesian_art/
Empat setengah tahun saya kuliah di Solo, banyak hal yang saya dapatkan. Pelajaran-pelajaran dan ilmu hidup saya dapatkan dari berbagai hal, tak hanya dari perkuliahan, namun juga dari kajian-kajian, diskusi, buku-buku, berorganisasi, dan salah satu juga yang paling penting adalah perhatian dan ketertarikan pribadi soal “masalah-masalah” sosial disekitar.
Jarak rumah dan kampus yang tidak terlalu jauh membuat saya memilih untuk tidak ngekost, beberapa semester saya ngekost juga sebenarnya cuma numpang istirahat. Tidak benar-benar full meninggalkan rumah di Desa. Kondisi yang begitu membuat saya merasakan dua kondisi sosial yang sebenarnya agak berbeda, Desa di Sragen dan Kampus di Solo. Saya pikir begitu kontras sebenarnya perbedaannya. 
Didesa kesadaran masyarakat sebagai suatu kelompok begitu kental terasa, di desa masih banyak terdapat kerjabakti, setiap ada orang gawe pasti sedesa turut sibuk, satu orang punya hajat, punya masalah, menjadi masalah bersama, kontrol sosial juga tinggi. Seperti apa yang dikatakan dalam kelas-kelas diperkuliahan semester awal, di desa kelompok sosial cenderung lebih ke Gesselscaft alias Paguyuban. dimana anggotanya terikat kuat satu sama lain. 
Sedang dikota, orang-orang terhubung oleh kepentingan, bisa dari hubungan kerja, hubungan minat dan hobi, ikatan organisasi, ikatan partai atau ideoligi, ndak seperti di didesa yang hubungan berdasar teritori, dikota tidak mengenal tetangga adalah hal yang biasa, maka kontrol sosial juga tidak terlalu kuat. Urusan kerja bakti misalnya, orang lebih memilih membayar dari pada kerja bersama-sama. Hubungan begini dalam sosiologi disebut hubungan Gemeinscaft atau patembayan, hubungan berdasarkan kepentingan. 
Namun akhir-akhir ini tak pikir hubungan sosial macem apa yang dikampus pelajari tidak saya rasa lagi. Saya tidak rasakan lagi di desa interaksi yang intim sebagai kesatuan teritori, begitupula di kota sebagai suatu kesatuan kepentingan. Ada perubahan yang sedemikian besar mengubah hubungan interaksi kita, banyak hal tak pikir, tapi utamanya adalah berkembangnya telepon genggam dan teknologi informasi kita. 
Perkembangan tekhnologi informasi yang makin pesat ternyata tak kita sadari, telah mengubah interaksi dan hubungan sosial kita sedemikian rupa. Di desa-desa tak kita dapati lagi, utamanya dikalangan muda umuran saya ini, obrolan intim tentang bagaimana kondisi teman-teman kita diperantauan, atau bagaimana ruginya adik-adik kita tidak memainkan lagi permainan-permainan seru kita duhulu, bagaimana tetangga-tetangga kita dan pacarnya yang sering pulang malam, atau tentang pekerjaan, sekolah, guru-guru kita, tetangga-tetangga yang menyebalkan dan lain-lain. Itu semua membentuk solidaritas, memperkuat kontrol sosial. Semua telah disibukkan telepon genngamnya masing-masing.
Dikota juga demikian, kita tidak kita temui lagi diskusi-diskusi bagaimana kondisi kota, dan negara kita, dimana tempat-tempat berenang, futsal, badminton yang paling murah untuk kita bisa datangi bersama, dimana ada pameran-pameran beasiswa dan kerjaan yang bisa kita daftari. Kita disibukkan oleh informasi-informasi virtual tanpa pertukaran simpati dan empati kita tentang informasi itu.
Saya tidak sedang menggugat, saya cuma sedang merindukan obrolan tatapmuka penuh transaksi rasa empati diantara masyarakat kita, padahal itu yang membuat kita merasa menjadi manusia. Bagi saya, secanggih apapun teknologi informasi yang kita genggam tak akan bisa menggantikan obrolan hangat. Sebaik apapun hubungan virtual tidak akan menampakkan tatapan mata seseorang yang tercermin ketika sedih dan suka, tulus atau bohong. 
Sekarang-sekarang ini, kita hanya bisa mengandalkan warung kopi untuk menggantikannya. Saya kira di warung kopi ataupun hik/wedengan interaksi macem begitu masih bisa dicari. Sampai saya menulis tulisan ini pun saya sedang di warung kopi, memesan segelas Capuccino sembari menunggu kawan untuk berinteraksi, dan tenggelam dipikiran sendiri.
Segitu aja dulu, dari yang merindukanmu dengan obrolan-obrolan intim kita.
Anu.
Share:

About

FIRMAN HARI INI

Labels