• Opinion

    Beberapa buah kata-kata yang bisa tersampaikan

  • Resensi Buku

    Beberapa kata yang bisa tergambarkan dari setumpuk lembaran

  • Hobi

    tentang hobi

  • Obrolan

    Obrolan-obrolah

Tampilkan postingan dengan label Resensi buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi buku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Oktober 2018

Resensi Novel Korusi Karya Pramoedya Ananta Toer

Penulis: Rizal Abdurrahman

Belakangan santer karya-karya Pramoedya Ananta Toer kembali banyak diperbincangkan, terutama setelah ada pengumuman resmi bahwa salah satu karyanya yang paling fenomenal akan di layarlebarkan yaitu novel Bumi Manusia. Terlepas dari pro kontra pembuatan film tersebut, memang bagi para pembaca karya-karya Pramoedya telah berekspektasi banyak tentang karya-karya Pramoedya, tak terkecuali saya sendiri. Memangnya siapa Pramoedya? Ia dikenal luas sebagai salah satu penulis terbesar yang pernah dimiliki Indonesia. Bagaimana tidak, dengan karya-karya yang banyak dialih bahasakan di berbagai belahan dunia dan segudang prestasi yang diraihnya tentu membuat Ia banyak dikagumi diberbagai lintas generasi.
Bagi saya sendiri, Ia adalah salah satu penulis novel sejarah yang serius dan tajam. Dari beberapa karyanya yang saya baca salah satu yang saya kagumi adalah kepiawaiannya memotret dan menceritakan latar kondisi sosial yang ada serta suasana batin tokoh-tokoh dalam novelnya. Sehingga, ketika membaca novelnya kita seakan diajak menghayati betul kondisi yang ada, serta perilaku-perilaku para tokoh yang kadang-kadang kita tak bisa bayangkan jika hanya baca buku-buku sejarah saja.
Hal inilah yang sebenarnya menarik saya untuk membeli salah satu karyanya tentang penyakit sosial berjudul “Korupsi” ini.
Sebelum membaca novel ini memang saya berekspektasi, seperti karya-karya Pramoedya yang lain, untuk mendapat gambaran kondisi sosial macam apa yang menyebabkan bangsa yang baru saja merdeka (novel ditulis pada tahun 1952) memiliki pegawai birokrat yang terlena dengan perilaku bohong Korupsi.
Cerita dimulai dengan memperkenalkan tokoh “Aku” yaitu Bakir. Bakir adalah seorang pegawai negeri yang sudah lumayan tua. Ia tinggal bersama istri dan keempat anaknya, Bakri, Bakar, Basir, dan Basirah. Keluarga Bakir hidup di satu rumah yang karena kondisi ekonomi dan kebutuhan, harus rela berbagi dengan keluarga Tionghoa yang menggunakan bagian depan rumahnya sebagai warung.
Diceritakan hidupnya kian lama kian sulit, dengan kebutuhan anak-anak dan keluarga yang semakin besar, terbesitlah dalam benaknya untuk melakukan korupsi.
Singkat cerita, dengan tekad yang sungguh, ia bersiap meninggalkan kejujurannya yang selama membuat ia enggan melakukan apa yang biasanya dilakukan oleh para karibnya dan membuatnya ketinggalan kemakmuran.
Pada suatu pagi di kantor ia merencanakan korupsinya. Diceritakan bahwa di kantornya ia memiliki pegawai setia, seorang pemuda yang selama ini mengagumi kejujuran Bakir dalam memimpin kantornya, Sirad namanya. Sirad selalu membuat Bakir bimbang ketika hendak melakukan korupsi. Namun karena tekad Bakir untuk meninggalkan kesengsaraannya, Ia pun tak peduli dengan Sirad, baginya pemuda ini akan diam jika dia diberi jatah atas setiap korupsinya.
Bakir melakukan aksinya pertama-tama dengan menjual sisa-sisa kertas, karbon dan pita di kantornya. Setelah berhasil terjual, ia mendapatkan tambahan uang untuk memperbaiki penampilannya.
Uang ditangan tak membuat ia merasa tenang, justru sebaliknya, perasaan gelisah selalu menghampiri Bakir, termasuk ketika istrinya bertanya sumber uang tambahan tersebut. Tentu sang istri mempertanyakan sumber uang itu, ia berkata bahwa ia dapat dari menang lotre, dari sinilah kebohongan demi kebohongan dimulai oleh Bakir, dan membuatnya semakin hari semakin gelisah. Padahal sebelumnya Bakir adalah seorang yang jujur dan apa adanya apalagi terhadap istri dan keluarganya.
Demi menjalankan dan memperlancar aksinya, ia mengubah penampilannya. Di suatu sore ketika berjalan-jalan dengan istrinya, Bakir meminta dibelikan dasi baru dan semir sepatu. Hal ini menambah kecurigaan istrinya. Ia berusaha menjelaskan jujur kepada istrinya tentang rencana yang akan dilakukannya, namun selalu gagal karena istrinya selalu memojokkannya bahwa ia akan melakukan korupsi. Sang Istri selalu menanyakan perubahan sikap yang terjadi kepada diri Bakir, dan hal itu yang memaksa Bakir membuat kebohongan-kebohongan baru. Hal ini membuat hubungan Bakir dan istrinya semakin meredup.
Singkat cerita, dengan dasi baru, sepatu yang klimis dan uang pinjaman dari Sirad, Bakir pergi naik taksi ke perusahaan yang selama ini memang selalu berusaha menyogoknya. Ia adalah seorang pengusaha Tionghoa. Tak butuh banyak usaha, ternyata mudah sekali dia sukses sebagai koruptor yakni dengan menaikkan harga izin dan tandatangannya sendiri.
Dengan kesuksesannya terbesit di hatinya untuk mengawini wanita muda yang selama ini menjadi idamannya, Sutijah.
Kondisi keluarga Bakir yang semakin tak harmonis karena istrinya selalu mencurigai semua pendapatan yang diperolehnya akhirnya memuncak. Bakir tak tahan dengan pertanyaan-pertanyaan itu, dan minggat dari rumah. Tinggallah ia kemudian di rumah Sutijah, wanita idamannya. Ia mengajak wanita berumur 20 tahun ini untuk menikah dan membuat rumah di Bogor. Dengan kondisi Sutijah yang serba berkebutuhan, dan kesuksesan Bakir berkorupsi, akhirnya impiannya untuk mengawini Sutijah pun terwujud.
Seiring bertambah hartanya, Bakir semakin jarang masuk kantor. Saat Ia kembali bekerja, pertanyaan banyak diajukan Sirad, tentang keberadaan Bakir selama ini dan kabar bahwa Bakir tidak kembali ke Rumah selama setahun. Suasana di kantor semakin tidak membuat nyaman Bakir, setelah ada isu rencana memberantas korupsi di kantornya.
Semakin lama, Bakir semakin tertutup, ditambah adanya mobil baru, rumah baru di Bogor, dan berbagai hubungan dengan perusahaan asing, Bakir semakin dicurigai oleh para pegawainya sendiri.
Malapetaka pun hadir ketika ia berusaha merencanakan korupsi di Perusahaan Negara. Ia dijebak oleh perusahaan ini agar tertangkap basah melakukan korupsi. Namun ia berhasil menghindar.
Ia kembali ke rumahnya di Bogor. Meski Sutijah semakin lama semakin cantik, namun rumahnya itu tidak pernah memberikan ketenangan seperti apa yang ia dapatkan dirumah sebelumnya. Ia teringat kembali istrinya yang sungguh setia menemani kesederhanaan hidupnya selama ini dan anak-anaknya yang selalu menanti kedatangannya dirumah.
Singkat cerita, ketika istri barunya Sutijah pergi berlibur ke Bali, Bakir mengirim uang yang Sutijah minta lewat kantor Pos. Tanpa diketahuinya, ternyata pegawai kantor pos telah menghubungi polisi dan Bakir akhirnya masuk penjara.
Setelah dimasukkan ke penjara, tanpa diduga istri dan keempat anaknya menjenguknya dan memberi semangat kepada Bakir untuk bisa menyadari bahwa apa yang dilakukannya dan dikejarnya selama ini adalah salah. Ia telah menjadi korban hawa nafsunya sendiri.
Menurut saya, meskipun memang tidak banyak menggambarkan kondisi sosial politik serta ekonomi makro yang biasanya merupakan senjata Pram dalam berbagai novel-novelnya, namun novel ini tetap layak untuk dibaca.
Sedikit memang, novel yang membahas penyakit sosial yang satu ini. Bagi saya kekuatan novel ini adalah sudut pandang yang diambil dan penggambaran kebimbangan tokoh dalam melaksanakkan aksinya. Menelanjangi mereka yang berniat untuk korupsi, entah apapun alasannya.


Judul Novel : Korupsi
Penerbit : Hasta Mitra, Jakarta
Tahun Cetak: 2002
Jumlah Halaman: 160 Hal
Share:

Rabu, 11 Juli 2018

Masyarakat Madani Indonesia dalam Buku Indonesia Kita (Cak Nur)

 
Hasil gambar untuk Indonesia Kita nurcholish
Penulis : Rizal Abdurrahman
 
 
Apa yang pertama kali muncul dipikiran anda ketika mendengar nama Nurcholis Madjid?  Tokoh intelektual muslim? Tokoh pembaharu Islam?  Tokoh kontroversial? Nama Nurcholis Madjid atau yang lebih familiar dipanggil Cak Nur ini memang sering dikenal sebagai tokoh yang idenya melampaui zamannya. Gagasan-gagasannya terutama tentang inklusifitas dan pluralisme yang ia kembangkan menuai banyak pembahasan baik yang mendukung ataupun menolak. Tapi sebenarnya siapa beliau ini?
Cak Nur lahir dari keturunan yang begitu kental dengan pesantren dan membuatnya mempelajari agama sejak kecil. Beranjak menjadi mahasiswa di IAIN Jakarta, Cak Nur semakin aktif menggeluti bidang pembaharuan pemikiran Islam. Ia sempat menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan satu-satunya yang pernah menjabat selama dua periode. Karya yang dihasilkan salah satunya adalah Nilai-nilai Dasar Perjuangan yang menjadi pedoman nilai dan kerangka organisasi HMI.

Setelah lulus kuliah ia tetap konsisten pada jalur yang dipilihnya, ia kemudian aktif dalam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), mempelopori terbentuknya Yayasan Paramadina, dan juga pernah menjadi Rektor Universitas Paramadina serta masih banyak karya dan aktivitasnya. Cak Nur juga telah banyak menghasilkan berbagai buku seperti Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, Islam Doktrin dan Peradaban, Pintu-Pintu menuju Tuhan dan banyak lagi.
Tapi kali ini saya ingin mengulas salah satu karya Cak Nur yaitu buku berjudul Indonesia Kita. Buku Indonesia Kita ini ditulis pada tahun 2003 ketika bangsa Indonesia sedang mengalami masa transisi demokrasi. Cak Nur sendiri merasa krisis multidimensi yang dialami Indonesia saat itu dikarenakan semakin sedikit orang yang sungguh-sungguh berpikir dan bertindak untuk kepentingan bangsa.

Buku ini dimaksudkan untuk mengurai segala silang sengkarut krisis yang melanda bangsa. Cak Nur mengambil dari sudut yang memang jarang dipakai, Ia berusaha mengaitkan krisis multidimensional yang diderita bangsa dengan dinamika kelahiran, pertumbuhan dan perkembangan bangsa.
Sesuai kapasitasnya sebagai pemikir Islam, Ia tentu tak meninggalkan sudut pandang Islam yang membuat buku ini menarik. Tak tanggung-tanggung, Cak Nur memulainya dari jaman puncak-puncak perkembangan peradaban Islam di dunia. Kebudayaan Islam masuk ke Indonesia melalui pedagang-pedagang yang kemudian menguasai bandar-bandar di kota pantai Nusantara.

Para saudagar Islam itu tak jarang jadi tempat menimba kearifan bagi masyarakat luas. Lahirlah kemudian model-model pondok awal dimana menjadi tempat menimba ilmu para santri. Konsep pondok kemudian berpadu dengan konsep padepokan yang ada dalam budaya Hindhu-Budha.
Ketika kolonialisme masuk ke wilayah Indonesia, para pemimpin rakyat, terutama para ulama yang memang secara ideologis dan genealogis merasa sebagai pewaris langsung para penguasa bandar dengan masyarakat perdagangannya, konsisten melakukan politik non-kooperasi total.

Hal itu bagaikan pisau bermata dua, di satu sisi berhasil memelihara tingkat tinggi kepahlawanan bangsa, namun di sisi yang lain meminggirkan mereka dari arus utama interaksi sosial-budaya dan pedidikan yang semakin diungguli oleh pola interaksi modern.

Menurut Cak Nur, marginalisasi dan deprivasi ulama dan masyarakat pondok pesantren dalam bidang pendidikan merupakan salah satu sumber utama kesulitan sosial politik kelompok pewaris para wali bandar itu, justru setalah kemerdekaan bangsa yang mereka dambakan tercapai. Hal itu menjadi kesulitan lebih lanjut yakni kesulitan seluruh bangsa. “Pondok pesantren adalah batu sudut rumah (negara) yang diabaikan oleh para pembangun rumah itu”.
Perlawanan berabad-abad terhadap kolonialisme yang berlangsung sporadis atas dasar pertimbangan keagamaan dan dorongan kepentingan perdagangan megakibatkan perlawanan hanya terbatas pada wilayah-wilayah kecil tertentu, belum mencakup apa yang kita sebut sekarang sebagai dari Sabang sampai Merauke.

Kesadaran nasionalisme modern Indonesia baru mulai bersemi ketika Belanda melaksanakan politik etis kepada tanah jajahan Hindia-Belanda (Indonesia) yang dilakukan atas dorongan kaum sosialis, humanis dan reformis liberal di Eropa. Cak Nur menjelaskan bahwa kebijakan politik etis oleh Belanda yang akhirnya secara tanpa sengaja (tidak dimaksudkan demikian pelaksanaannya) menumbuhkan kesadaran bersama bagi kaum pribumi sebagai bangsa terjajah.

Mulai tumbuh organisasi-organisasi dari kaum pribumi, mengemuka pula bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa melayu yang digunakan sebagai bahasa persatuan. Perjuangannya sudah tidak lagi sporadis kesukuan, keagamaan, atau kerajaan, namun sebagai satu kesatuan sebagai bangsa terjajah. Itulah apa yang disebut Cak Nur sebagai kesadaran nasionalisme modern, yang membedakannya dari nasionalisme klasik. 
Nasionalisme modern menurut Cak Nur semangat yang dibawanya begitu identik dengan konsep masyarakat Madinah pada periode kepemimpinan Nabi. Nasionalisme sejati dalam artian suatu paham yang memperhatikan kepentingan warga bangsa secara keseluruhan tanpa kecuali adalah bagian integral dari konsep Madinah yang dibangun Nabi.

Konsep nasionalisme modern yang demikian akan selaras dengan konsep masyarakat Madani apabila melaksanakan good governance secara konsekuen, yaitu pengelolaan yang baik yang bertumpu pada kemutlakan adanya transparansi, partisipasi terbuka, dan pertanggung jawaban atau accountable dalam semua kegiatan kenegaraan di setiap jenjang pengelolaan negara, sehingga terbentuk pemerintahan yang bersih.
Pada bab-bab selanjutnya Cak Nur berusaha mengaitkan konsep negara bangsa yang dicita-citakan para pendiri bangsa itu dalam prakteknya pada periode kepemimpinan Presiden Soekarno dan Soeharto. Ia tentu menarik segi positifnya sebagai peristiwa dan dinamika sejarah yang amat berharga, walaupun begitu menyeleweng terhadap cita-cita yang diusung sejak kemerdekaan.
Pada akhir tulisannya beliau menawarkan platform “Membangun Kembali Indonesia” untuk mengurai krisis multidemensional yang dialami. Dalam platform tersebut ada sepuluh poin yang ditawarkan Cak Nur, pertama mewujudkan Good Governance pada setiap lapisan pengelolaan negara, menegakkan supremasi hukum dengan konsisten dan konsekuen, melaksanakan rekonsiliasi nasional, merintis reformasi ekonomi dengan mengutamakan pengembangan kegiatan produksi dari bawah.

Selanjutnya mengembangkan dan memperkuat pranata-pranata demokrasi: kebebasan sipil khususnya pers dan akademik, dan pembagian tugas yang jelas antara tiga cabang kekuasaan, meningkatkan ketahanan dan keamanan nasional dengan membangun harkat dan martabat personel dan pranata TNI dan Polri dalam bingkai demokrasi, memelihara keutuhan wilayah negara melalui pendekatan budaya, peneguhan ke-bhinneka-an dan ke-eka-an, serta pembangunan otonomisasi, meratakan dan meningkatkan mutu pendidikan di seluruh Nusantara, mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat sebagai tujuan negara, dan terakhir mengambil peran aktif dalam usaha bersama menciptakan perdamaian dunia.
Kelebihan buku ini bagi saya adalah pengambilan sudut pandang yang jarang dipakai oleh orang lain. Cak Nur menggali akar kebangsaan dengan sudut pandangnya yang konsisten sebagai seorang intelektual muslim. Hal ini menarik karena sangat membantu untuk memahami bagaimana seorang muslim, tanpa meninggalkan identitasnya itu, dapat menilai dan memaknai dialektika kesejarahan perkembangan bangsanya secara wajar dan konsisten.

Dengan begitu kita sebagai sebuah bangsa yang besar ini dapat mengambil pelajaran dari trial and error yang telah dilakukan para pendahulu, dalam arti bisa meneruskan apa yang baik dan mengevaluasi kegagalan yang ada tentunya dengan semangat yang sama seperti saat nabi memimpin madinah. Sehingga kita dapat secara bersama-sama merumuskan kembali pembangunan yang seperti apa yang paling baik untuk bangsa. 
Kurangnya buku ini bagi saya adalah pembahasannya yang masih sangat umum. Cakupan pembahasannya yang cukup luas hanya dibahas oleh Cak Nur dengan 215 halaman, yang menjadikan gagasannya tidak diulas mendalam.

Namun hal ini bisa dimaklumi saat mengetahui bahwa tujuan awal pembuatan buku ini adalah sebagai suatu rintisan yang ditunjukkan kepada siapapun yang mempunyai keprihatinan yang sama, khususnya generasi muda, agar dapat mengembangkan dan memperbaiki serta melaksanakan dengan memberikan tauladan sebaik-baiknya untuk warga masyarakat. 
Maka buku ini saya rekomendasikan agar dapat perhatian yang lebih kepada khalayak, terutama warga negara yang beragama Islam. Mengapa? Melihat tren sekarang ini menurunnya semangat kebangsaan dan mulai kembali melenceng dari jalur diakibatkan oleh para politisi yang mengalami split personality lalu akhirnya hanya memainkan politik identitas.

Akibatnya sekarang ini kita dipertontonkan dagelan identitas, identitas Pancasila dan identitas Islam, berebut siapa yang paling Islam dan siapa yang paling Pancasila seakan dua-duanya sangat dikotomis.

Politik yang hanya terbatas pada jubah akan sangat jarang sekali membawa nilai-nilai kebangsaan yang membawa kepentingan bersama sebagaimana yang dicita-citakan para pendiri bangsa dan juga dicontohkan oleh Nabi. Menjadi sangat wajar jika politisi sekarang menyibukkan diri pada hal-hal identitas tanpa pertarungan gagasan, ide dan konsep yang mencerdaskan masyarakat.

Untuk meluruskan itu semua pembahasan-pembahasan konstruktif tanpa meninggalkan pengalaman sejarah dan kepentingan seluruh bangsa sangat diperlukan. Bagi saya Cak Nur telah merintis pembahasan itu dengan cerdas dalam buku ini, dan tugas kita sekarang untuk memahami, mengembangkan dan tentunya melaksanakan.
Share:

Senin, 08 Januari 2018

Hati dalam Pengetahuan Manusia (Coretan tentang Pengantar Epistemologi Islam - Murtadha Muthahari)





 

Akhir tahun lalu Saya akhiri dengan menyelesaikan baca buku ‘Pengantar Epistemologi Islam’ yang ditulis oleh Murtadha Muthahari. Buku pinjeman yag mulai dibaca lagi gegara ngisi kajian epistemologi sebulan lalu. Banyak hal yang menarik sebenarnya yang masih bisa dibahas dalam buku ini. Salah satu yang Saya kira akan jarang kita dapati di buku-buku lain soal epistemogi adalah peran Hati dalam pengetahuan. Murtadha Muthahari sangat menekankan fungsi hati dalam dunia pengetahuan manusia. Saya kira ini yang menarik dan membedakan Epistemologi Islam Murtadha Muthahari dan Epistemologi yang lain.
 
Buku ini menekankan bahwa selain Alam dan Rasio/akal manusia sebagai sumber pengetahuan, hati merupakan aspek penting yang sering dilupakan. Hati sendiri tidak merujuk pada organ tubuh manusia, hati disini dalam artian yang sama dengan yang dimaksud pada istilah “buta hati”, “patah hati”, “sakit hati”, atau “jatuh hati”. Hati merujuk pada perkara pemaknaan manusia. Hati dibedakan dengan sumber alam dan rasio, walaupun sebenarnya sangat dekat dan tidak bisa dipisah dengan rasio.
 
Hati sering digambarkan sebagai cermin, ia memantulkan bayangan manusia (cahaya) sebagaimana adanya ketika cermin itu bersih. Cermin yang bersih bisa memantulkan alam raya sebagaimana adanya, tidak demikian dengan cermin yang kotor, bayangan akan kabur dan semakin kotor cermin semakin kotor pula bayangan dunianya. Begitupun pengetahuan manusia, ketika hati manusia tidak bersih maka indra dan akal tidak akan menerima pengetahuan dengan sebagaimana adanya. Pengetahuan yang benar akan kabur jika hati manusia masih kotor.
 
Pada mekanisme pengetahuan manusia, indra berperan hanya menangkap pengetahuan yang sederhana, sebagaimana hewan menangkap pengetahuan. Maka pengetahuan indra hanya bersifat partikular, sederhana, kekinian, dan kawasan tertentu. Indra manusia tidak mengenal sejarah dan peradaban, tidak mengenal menkanisme sebab-akibat, baik-buruk, ataupun benar-salah. Indra manusia menangkap sesuatu sebagaimana adanya. Kemudian setelah itu informasi diolah dan disimpan oleh akal/rasio. Rasio manusia bertugas untuk memproses pengetahuan sederhana manusia. Rasio dapat memilah, mengurai, menyusun, melepas, atau menjeneralkan informasi. 
 
Dimana posisi hati dalam pengetahuan? Ia berada dalam proses penilaian dan pemaknaan. Hati manusia tidak bisa menilai dan memaknai pengetahuan itu dengan baik manakala manusia mencintai sesuatu, ia akan fanatik terhadap sesuatu tersebut. Ketika hati manusia telah fanatik terhadap sesuatu, maka manusia tidak akan melihat sesuatu sebagaimana adanya. Begitupun ketika manusia membenci, tidak suka, dendam, marah, pengetahuan tidak juga tidak akan sesuai. Kalau masih ibarat cermin tadi, ketika manusia membawa sifat dan tabiat itu dalam hatinya, cermin itu akan berwarna, dan ketika cermin itu berwarna, ia akan menampilkan sesuatu sebagaimana warna tersebut, ketika cermin itu hijau, ia akan menampilkan sesuatu selalu hijau pula. Ia tidak akan netral menilai dan memaknai sesuatu. Sering kita mendengar istilah seumpama “Punya mata tapi tak melihat”, “Punya telinga tapi tak mendengar”, hal itu karena hati manusia tidak bersih, ia bercampur dendam ketidaksukaan, ataupun kecintaan yang terlalu.
 
Hal ini menjelaskan kepada kita bagaimana seorang teroris bisa sedemikian kejamnya membunuh manusia, ataupun orang-orang yang bunuh diri karena “patah hati” ditinggal kekasihnya, karena memang ketika hati manusia diselimuti sifat-sifat yang demikian fungsi indra dan akal sebagai instrumen pengetahuan jadi tidak berguna sebagaimana adanya. Ketika manusia dipenuhi rasa sentimen ia tidak akan pula menggunakan pengetahuan sebagai mana seharusnya.
 
Saya jadi merasa pembahasan-pembahasan perkara begini penting dilakukan dilingkungan kita sekarang, utamanya pada kaum-kaum terpelajar. Kehampaan spiritual yang sekarang terjadi di dunia ilmu pengetahuan kita, bisa jadi memang tidak selesainya pandangan dunia kita dan pandangan dunia sangat terpengaruh oleh epistemologi yang dipakai. Mainstream pendidikan kita sejak dari SD dibekali memang berbagai ilmu pengetahuan, baik itu tentang manusia dan peradabannya (sosial) maupun tentang alam dan hukum-hukumnya, temuan-temuan ilmuan barat. Sedangkan sebenarnya peradaban yang kita jalani sekarang tentu warisan dari rangkaian sejarah revolusi-revolusi dunia abad 18, yang sentimen terhadap tatanan dunia sebelumnya, sekarang dibidang politik umpamanya lahir sistem negara-bangsa (nation-state) sebagai lawan dari bentuk sebelumnya yang mainstream memakai sistem kerajaan. Dibidang Ekonomi lahir sistem kapital (Industri), untuk menggantikan sistem dagang tradisional. Budaya dan tatanan sosial sekarang juga cenderung individual dan manusia sentris lawan dari komunal dan alam sentris. Pada bidang agama lahir sistem sekuler sebagai akibat dari sentimen anti-agama. Kita jadi mmenganggap sesuatu yang telah ada sekarang jadi sistem paling baik karena sentimen kita terhadap masalalu, menjadi fanatik sistem politik nation-state dan anti sistem kerajaan, jadi fanatik hak-hak individual tapi lupa kewajiban sosial, jadi fanatik sekularisme hanya sebab sentimen terhadap sistem gereja/agama jaman dulu. Kaum terpelajar kita perlu menilai sesuatu bukan dari ketidaksukaan atau bahkan fanatismenya terhadap masalalu, Ia harus melakukan dan menilai sesuatu karena kemajuan peradaban yang lebih baik kedepannya. Jika pelajar kita hanya dicekoki warisan dendam dan keccintaan yang fanatik, ilmu pengetahuan kita tidak akan maju. 
 
Tatanan dunia dan pandangan dunia sekarang sangat dipengaruhi oleh epistemologi yang dipakai yang cenderung empirisme yang dipisah pula dari rasionalisme. Ilmu pengetahuan kita menjadi menjadi acuh tak acuh satu sama lain, tidak netral karena sentimen, begitupula penggunaannya menjadi brutal. Dengan sifat begitu peradaban kita jadi hanya maju disatu sisi dalam pengetahuan, tapi ia acuh terhadap sisi yang lain. Pengetahuan maju dibidang ilmu pengetahuan tekhnologi disatu sisi, tapi ia acuh terhadap keadilan sosial disisi yang lain. Begitupula sebaliknya. 
 
Secara umum buku ini bagus dan mudah dicerna karena memang selain contoh-contohnya yang mudah diterima, buku ini berasal dari ceramah Murtadha Muthahari sendiri. Berbeda umpamanya dengan Falsafatuna oleh Baqir Sadr yang setiap paragraf perlu diulang untuk dicerna satu dua kali. Buku ini cocok untuk yang ingin belajar NDP HMI yang versi “baru”, karena istilah-istilah dan kerangka ke-persia-persiaan berseliweran dibuku ini. 
 
Sekian, kalo ada waktu senggan sembari menunggu jadwal sidang resensi buku-buku yang lain juga. Open discuss btw.

Share:

Sabtu, 06 Agustus 2016

MADILOG, Tan Malaka

Telah banyak studi dan karya pustaka tentang Tan Malaka. Bahkan tak sedikit pakar yang secara sengaja mendedikasikan diri untuk mengkaji tuntas sosok “pejuang pemikir” paling mistrius ini.

Beberapa nama yang bisa disebut adalah: Harry A Poeze dan Rudolf Mrazek. Bahkan Indonesianis yang namanya disebut terakhir itu, menyebut Tan Malaka sebagai tokoh yang komplit. Sementara sejumlah penulis nasional juga berhasil merekonstruksi sejumlah aspek menonjol dari Tan Malaka. Seperti Zulhasril Nasir (buku Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau); Harry Prabowo (Tan Malaka, Teori dan Praksis Menuju Republik); serta Matumona (Patjar Merah Indonesia).

Dari semua itu, nyaris tak ada keberatan dari pihak manapun jika kita meletakkan buku Madilog sebagai magnum opus (karya besar) dan bahkan legenda pustaka nasional. Termasuk versi Majalah TEMPO edisi khusus, yang menempatkan literatur penting tersebut sebagai salah satu dari 100 buku paling berpengarauh di Indonesia.

Di mana istimewanya?

Benar bahwa jika dilihat dari waktu terbit —yang terlambat oleh aneka sebab— buku ini terbilang belakangan (ditulis selama delapan bulan, dalam tahun 1942 sampai 1943).

Tidak seperti karya-karyanya yang lain, seperti Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia, terbit tahun 1924) atau Massa Actie (terbit tahun 1926). Begitupun dari aspek pengaruh langsung, jelas Madilog bukan yang paling utama. Buku ini tak menjadi panduan praktis serta tidak mengibarkan perlawanan revolusioner secara konkret.

Lain hal jika tinjauan mengarah pada totalitas, daya jelajah, kedalaman analisis, serta gaung yang masih menggema hingga kini. Jelas Madilog melampau semua karya-karya itu.

Sebagai sebuah pergumulan gagasan, Madilog juga berbasis pada fakta-fakta sosiologis dan fenomena sosial politik yang berlangsung —sejak Indonesia Pra Hindu sampai era kolonialisme. Ditulis dengan perspektif akademik yang kuat —meski pengakuan dari Tan Malaka, ia hanya mengandalkan hapalan, dengan metode “jembatan keledai” (membuat singkatan untuk istilah-istilah kunci), ketika menulis buku itu. Maklumlah, ia diterpa suasana kemiskinan dan menanggung resiko berat sebagai pelarian. Satu hal lagi: Madilog menjadi alat pembongkaran atas hukum berpikir dan sistem kepercayaan yang mengungkung manusia di Indonesia. Tak hanya mendekonstruksi (membongkar), melainkan memberi alternatif pemikiran.

Tan Malaka menulis: Kitab ini adalah bentuk dari paham bertahun-tahun tersimpan di dalam pikiran saya, dalam kehidupan yang bergelora (halaman 26). Gelora pemikiran yang tersayat karena melihat cara pikir kaoem repoeblik yang menurutnya lahir di dunia supranatural, supranaturan Hindu pula, supranatural yang tak gampang dikikis, dicuci bersih, maka sebagai tongkat pertama dalam dunia berpikir, perlulah sekedarnya memajukan logika…

Madilog adalah sebuah solusi. Sebagai sebuah presentasi ilmiah melalui serangkaian proses berpikir dan bertindak secara materialistis, dialektis, dan logis —dalam mewujudkan sebuah cita-cita yang diinginkan, yaitu merdeka 100 persen!

Menurut Tan Malaka, berkaca dari pengalaman berbagai kegagalan perjuangan merebut kemerdekaan (termasuk pemberontakan PKI tahun 1926-1927), cita-cita Indonesia merdeka tak akan berahasil dan jauh dari sasaran yang diinginkan, jika masa kaum proletar tidak mengganti hukum berpikir dan sistem kepercayaan yang dianut. Indonesia harus dibebaskan dari kungkungan alam pikir yang irasional, mistik, takhayul, klenik, metafisik, dan supranatural (Tan Malaka menyebutnya sebagai logika mistika). Agar terkikis penyakit lemah semangat dan lemah mental (halaman 26).

Bagaimana?

Madilog ialah cara berpikir berdasarkan materialisme, dialektika, dan logika,  dalam mencari sebab akibat, dengan mengandalkan bukti yang cukup, dan eksperimen yang sahih (lihat halaman 295). Sementara kepercayaan model logika mistika (berbau takhayul) adalah segala faham (pemikiran) yang tidak berdasarkan pada basis kebendaan (materi), tidak berpatok pada kenyataan, atau dengan kata lain segala paham yang tidak berdasarkan bukti dan tidak bisa dieksperimentasi. Masalahnya, hukum berpikir seperti ini, menurut Tan Malaka, telah mengakar, dan berproses sangat jauh. Melalui tahap kepercayaan Indonesia asli (yaitu era Pra Hindu), kepercayaan Hindustan, kepercayaan Islam, dan kepercayaan Tiongkok (lihat halaman 394).

Sementara logika, adalah disiplin berpikir runut, sistematik, melalui silogisme, memiliki definisi yang jelas, dan paling penting adalah bisa dieksperimentasi. Sedangkan materialisme adalah faham yang berpijak pada bukti-bukti kebendaan. Dan terakhir, dialektika adalah gerak, perubahan, dan dinamika. Satu hal pasti, keseluruhan prosedur berpikir seperti itu sajalah yang sanggup menafsirkan berbagai fenomena dengan ilmiah, scientis (ilmu bukti), dan menjadi solusi.

Menariknya, penjelajahan dan bantal argumentsi Madilog begitu panjang dan detil. Setiap bagian, masing-masing materialisme, dialektika, dan logika, mendapat eksplorasi tuntas.

Termasuk akar-akar kemunculan prosedurnya —yang secara jujur diakui oleh Tan Malaka ia pinjam dari Barat. Telaah tuntas ini, termasuk membuka pelbaga i kelemahan dan keterbatasan dalam menerapkan Madilog. Contohnya, dalam hal logik
a dan ilmu bukti (sains), yang menurut Tan Malaka terbatas secara internal dan eksternal. Keterbatasan internal adalah soal konteks ruang dan waktu, serta peralatan untuk dipakai sebagai pengujian dan pembuktian. Sementara keterbatasan eksternal adalah konteks sosial politik yang tengah berlangsung. Olehnya, wajar jika kemudian Tan Malaka tak ingin menjadikan karyanya ini sebagai dogma.

Catatan akhir, buku ini sangat layak untuk kembali dikonsumsi dan disebarluaskan kepada publik —bahkan dan terutama untuk hari ini. Betapa kita menyaksikan, di tengah kemajuan ilmu dan teknologi, ternyata hukum berpikir bangsa ini belum bergerak jauh. Kita melihat dan menggunakan kemajuan teknik hanya sebatas kulit. Sementara mindset tetap berbauh takhayul. Entah dalam ranah budaya, ekonomi, dan bahkan politik.



Sumber:
https://opinibuku.wordpress.com/2011/08/17/buku-tentang-madilog-tan-malaka/

untuk bukunya silahkan beli atau bisa baca disini
Share:

About

FIRMAN HARI INI

Labels